Kamis, Desember 20, 2007

Hati-hati 'rayuan' etanol


Setahun lalu Presiden SBY menyatakan komitmennya untuk mengembangkan biofuel. Semoga waktu itu SBY tidak serius. Dari MIT Technology Review:
According to calculations done by Minnesota researchers, 54 percent of the total energy represented by a gallon of ethanol is offset by the energy required to process the fuel; another 24 percent is offset by the energy required to grow the corn. While about 25 percent more energy is squeezed out of the biofuel than is used to produce it, other fuels yield much bigger gains, says Stephen Polasky, a professor of ecological and environmental economics at Minnesota. Making etha­nol is "not a cheap process," he says. "From my perspective, the biggest problem [with corn ethanol] is just the straight-out economics and the costs. The energy input/output is not very good."

Dengan kata lain, lebih dari setengah energi etanol "terbuang" dalam proses pembuatannya. Dari sisi lingkungan hidup, etanol ternyata tidak terlalu banyak mengurangi emisi karbondioksida dibandingkan BBM.

Namun, salah satu risiko terpenting pengembangan produksi etanol adalah risiko terhadap harga pangan dunia yang perlahan meningkat. Masih dari artikel tersebut:
If corn-derived ethanol has had little impact on energy markets and greenhouse-gas emissions, however, its production could have repercussions throughout the agricultural markets. Not only are corn prices up, but so are soybean prices, because farmers planted fewer soybeans to make room for corn.

In the May/June 2007 issue of Foreign Affairs, C. Ford Runge, a professor of applied economics and law at Minnesota, cowrote an article titled "How Biofuels Could Starve the Poor," which argued that "the enormous volume of corn required by the ethanol industry is sending shock waves through the food system."

Tentang kenaikan harga pangan dunia, silakan lihat juga liputan The Economist ini.

Jika waktu itu SBY serius, ada baiknya dia menimbang ulang strategi energinya. Retorika pengembangan biofuel untuk memberantas kemiskinan itu keliru: orang miskin lebih butuh bahan pangan murah daripada energi alternatif yang, ternyata, toh mahal juga.

Label: , ,

5 Comments:

At 6/11/2008 12:45:00 PM, Anonymous Anonim said...

Jadi, menurut anda bagaimana sebaiknya donk. Energi alternatif yang lain seperti angin dan matahari belum teroptimalkan karena teknologinya juga mahal. Brazil bisa koq mengatasi senhgketa antara perut dan mesin dengan etanol dari tebunya. Nggak krisis gula mereka karena etanol. Nah, Arya, coba tawarkan solusi anda!!!!

 
At 6/12/2008 05:21:00 AM, Blogger Arya Gaduh said...

Anonim:
Terima kasih untuk masukannya. Saya sempat baca di Wikipedia tentang Brazil, dan kelihatannya menarik memang inovasi mereka.

Namun kalau ditanya solusi, entah ya. Saya bukan ahli teknologi energi. Tapi secara ekonomi, prinsipnya selalu soal biaya kesempatan: jika bahan pangan digunakan sebagai energi, maka yang bisa dimakan berkurang sehingga harganya akan naik.

Harga gula (yang digunakan Brazil sebagai bahan etanol), misalnya. Menurut laporan FAO ini, dalam empat bulan pertama 2008, harga gula naik 20 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2007. Ini nyaris sama dengan kenaikan harga antara tahun 2000-2007 (23%).

O iya, Anonim -- lain kali, tolong gunakan alias untuk memberikan komentar. Ini memudahkan saya merujuk Anda jika menjawab komentar.

 
At 7/20/2008 10:06:00 PM, Blogger Unknown said...

payah nih, jangan mentang2 bukan ahli teknologi pangan trus ga punya soLusi. saya bukan ahLi teknoLogi pangan tapi saya punya soLusi.

Henry Ford pernah berkata "aLkohoL akan menjadi bahan bakar masa depan" tetapi tidak tahu kapan, mungkin jika petrofueL sdh langka.

mengenai tuLisan anda seperti ini "Tapi secara ekonomi, prinsipnya selalu soal biaya kesempatan: jika bahan pangan digunakan sebagai energi, maka yang bisa dimakan berkurang sehingga harganya akan naik."

itu memang benar, tapi masih bisa diakaLin. AlhamduLiLah Tanah Indonesia Luas. ituLah Kunci dasar. kemudian kunci lainnya adLh Manajemen SuppLy and Demand.

intinya... saya tidak akan memiLih SBY si Peragu bin Bodoh!! Ragu2 karena dia itu sebenarnya Bodoh.. Ragu2 adLh saLah satu sifat yang digemari Syaiton.

 
At 9/21/2008 06:01:00 PM, Blogger obot said...

sori ikut nimbrung

@donny, tanah indonesia luas itu adalah asumsi. coba tunjukkan luas lahan indonesia yang siap untuk ditanami agrofuel. ada berapa luas?

'siap' artinya tidak perlu mengonversi fungsi lahan sebelumnya. sebab kalau perlu mengonversi misalnya hutan, ada biaya lingkungan yang perlu dibayar, termasuk perubahan iklim global yang membawa kerentanan lebih jauh bagi rakyat miskin. mengonversi lahan pertanian ya sama saja..

solusinya? adopsi energi terbarukan yang lain. teknologinya memang tergolong masih mahal tanpa subsidi dan adopsi luas. tapi coba tunjukkan bagaimana agrofuel (generasi pertama) bisa berjaya tanpa insentif dan biaya konversi lahan.

 
At 1/17/2009 03:11:00 PM, Anonymous Anonim said...

he he he, ikut nimbrung aja yah. Sepengetahuan saya tuh, kalo bio ethanol dibuat dari berbagai macam sumber ada yang dari jagung, ketela dan sumber zat pati lainnya mmg sptnya kalo dari itu mungkin berdampak ya thdp harga bahan pangan (untung aja bukan dari padi ya, meskipun bisa).
Tapi ada yang kelupaan nih, dan ini penting. Bioethanol sangat cepat diproduksi dan jauh lebih murah bila bahan baku yang dipakai dari produk-produk gula. Karena Prosesnya dah tinggal satu tahap.
Dan yang dipakai bukan gula konsumsi manusia tapi tetes (tetes merupakan hasil samping dari pabrik gula yg msh mengandung bnyk kadar gula sekitar 15% klo gak salah, harganya sangat murah dan selalu terbentuk setiap proses pengolahan tebu jadi gula konsumsi). Nah ini yg dijadikan sbg bioethanol.
Jadi yang dipake bukan jagung,ketela, padi tapi TETES TEBU bro.Kalo dari gula konsumsi ya percuma karena harga gula konsumsi dah mahal jadi kalo diproses jadi bioethanol tuh harga akhir produk jadi berapa, dan gula konsumsi sudah pasti lakulah (sudah punya pasar).
jadi sepertinya prospek tuh bahkan bioethanol nilai oktannya tinggi bgt 117. jaqdi bisda juga tuk campuran bensin kalo ingin dijadiin pertamax ato premium 98.

Rama yudhi

 

Posting Komentar

<< Home