Rabu, Desember 19, 2007

Pertumbuhan impor yang tinggi mencemaskan?


Nur Hidayati, wartawan ekonomi Kompas dalam Laporan Akhir Tahun 2007:
Di negeri dengan garis pantai terpanjang di dunia ini, sebagian besar garam pun masih diimpor. Untuk komoditas primer yang melimpah di negeri ini, seperti gas, kayu, dan rotan sekalipun, industri pengolahannya masih meneriakkan kelangkaan bahan baku. Sebaliknya, industri mebel kayu dan rotan di China dan Vietnam yang tidak memiliki sumber bahan baku justru maju pesat.

Sebuah ironi tergambar nyata ketika dengan bangga kita mengekspor komoditas primer yang melimpah di negeri ini, sementara industri pengolahan yang bertahan justru terhantam kelangkaan bahan baku atau menjerit karena ketergantungan pada bahan baku impor.

Anda lihat kontradiksinya? Paragraf pertama: China dan Vietnam -- hebat, karena industri pengolahannya maju pesat meskipun tanpa bahan baku sendiri (alias dengan bahan baku impor). Paragraf kedua: Industri pengolahan Indonesia -- payah karena tergantung bahan baku impor. Lha, Nur, bagaimana ini?

Masalah Nur, saya kira, adalah bahwa dia masih menganut merkantilisme, ilmu ekonomi yang dianut di Eropa antara abad ke-16 hingga ke-18. Premisnya: Ekspor, baik; impor, buruk! Padahal, ilmu ekonomi modern menunjukkan bahwa keuntungan dari perdagangan justru berasal dari sisi impor. Perdagangan memungkinkan kita mendapatkan barang murah sesuai selera. Ekspor dibutuhkan untuk membiayai impor.

Tentang perdagangan, artikel Foreign Policy ini dengan baik menjelaskan logika perdagangan modern.

Label: , ,

1 Comments:

At 10/25/2008 08:44:00 AM, Anonymous Anonim said...

Hmmm tidak juga sih emang si penulis kompas sepertinya menganut sistem ekonomi merkantilisme n traditional. Gak selamanya import itu buruk, lihat sistem kapitalisme di US dimana mereka terus menerus mengimport, tetapi mereka maju. Tapi tidak salah juga jika export lebih bagus dari import contohnya China dimana mereka lebih banyak mengexport ketimbang mengimport.

Salam kenal silahkan masuk ke website saya

http://www.davidsetiawan.co.nr

 

Posting Komentar

<< Home